Monday, October 2, 2017

Rangkaian Ayat-ayat Ruqyah untuk Terapi Mandiri



Memenuhi permintaan pembaca, maka Rangkaian Ayat-ayat Ruqyah untuk Terapi Mandiri kami muat di dalam sebuah posting sendiri, hal ini  dengan tujuan untuk memudahkan para pembaca, yaitu memudahkan tidak hanya di dalam membaca semua ayat-ayat tersebut tetapi juga supaya lebih mudah untuk menyimpannya ke dalam komputer/ laptop dan smartphone Android untuk dipraktekkan. Dan sebelum mengamalkannya, Anda terlebih dahulu harus mempelajari Tata-cara Melakukan Ruqyah.

Di bawah ini adalah urut-urutan Rangkaian Ayat-ayat Ruqyah untuk Terapi Mandiri, sebagai berikut:


BAGIAN I



QS. AL-BAQARAH: 1-4

AYAT KURSI (QS. AL-BAQARAH: 255)

QS. AL-BAQARAH: 256-257

QS. AL-BAQARAH: 284-286


BAGIAN II

QS. AT-TAUBAH: 51

QS. YUNUS: 107 

QS. HUUD: 6 

QS. HUUD: 56

QS. AL-ANKABUUT: 60

QS. FAATHIR: 2

QS. AZ-ZUMAR: 38


BAGIAN III

QS. AL-IKHLAASH: 1-4

QS. AL-FALAQ: 1-5

QS. AN-NAAS: 1-6



BAGIAN IV

QS. AL-MU'MINUUN: 115-116


BAGIAN V

QS. AL-ISRAA': 45-46


BAGIAN VI

QS. AL-MU'MIN: 57

QS. AL-MULK: 3-4


BAGIAN VII

QS. AL-A'RAAF: 116

QS. AL-A'RAAF: 118

QS. YUNUS: 81

QS. AL-ANBIYAA': 30

QS. AL-FATH: 3

QS. AL-QAMAR: 11-12

QS. AL-MUJAADILAH: 21


BAGIAN VIII

QS. YUNUS: 59

QS. AR-RAHMAN: 35

QS. AR-RAHMAN: 33

QS. AL-MU'MINUUN: 108


BAGIAN IX


QS. AL-FAATIHAH

QS. AL-BAQARAH: 1-4

AYAT KURSI (QS. AL-BAQARAH: 255)

QS. AL-BAQARAH: 256-257

QS. AL-BAQARAH: 284-286

QS. ALI IMRAAN: 18

QS. AL-A'RAAF: 54

QS. AL-MU'MINUUN: 116-118

QS. AL-JIN: 1-3

QS. ASH-SHAFFAAT: 1-10

QS. Al-HASYR: 22-24

QS. AL-IKHLAASH: 1-4

QS. AL-FALAQ: 1-5

QS. AN-NAAS: 1-6


BAGIAN X (SELESAI) - Bacaan ini juga dapat digunakan untuk meruqyah rumah, agar dibaca 3X lagi

QS. AL-FAATIHAH

AYAT KURSI (QS. AL-BAQARAH: 255)

QS. AL-JIN: 1-6 (Tamat)
Baca Selengkapnya ...
Tuesday, September 19, 2017

Kisah Dialog Rasulullah SAW dengan Iblis


Dikisahkan suatu dialog antara Rasulullah SAW dengan Iblis, dialog yang sangat menggugah, dan mari kita simak baik-baik di bawah ini:


Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata: ”Kami bersama Rasulullah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba ada yang memanggil dari luar: “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku.” Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: ”Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu?” Para sahabat menjawab, ”Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah berkata: “Dia adalah Iblis yang terkutuk – semoga Allah senantiasa melaknatnya.” Umar bin Khattab r.a berkata: ”Ya Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?” Nabi SAW berkata pelan: ”Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan (hari kiamat)? Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Pahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian!”

Ibnu Abbas berkata: “Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah matanya. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya (masyquqatani) memanjang (terbelah ke atas, tidak kesamping), kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan/ kerbau (tsur). 

Dia  berkata, “Assalamu ‘alaika ya Muhammad, assalamu ‘alaikum ya jamaa’atal muslimin (salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin).” 

Nabi SAW menjawab: ”Assalamu lillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah SWT, wahai makhluk yang terlaknat). Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis.”

Iblis berkata: ”Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa (diperintah).” 

Nabi SAW berkata: ”Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini, wahai terlaknat?”

Iblis berkata, ”Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepadamu.’ Allah SWT bersabda, ”Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu.” Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah. Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku atas apa yang menimpa diriku.”





Rasulullah SAW kemudian mulai bertanya: ”Jika kamu jujur, beritahukanlah kepadaku, siapakah orang yang paling kamu benci?”

Iblis menjawab: ”Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluk Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu.”

Rasulullah SAW: ”Siapa lagi yang kamu benci?”

Iblis: ”Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT.”

Rasulullah SAW: ”Lalu siapa lagi?”

Iblis: ”Orang alim dan wara (menjaga diri dari syubhat) yang saya tahu, lagi penyabar.”

Rasulullah: ”Lalu siapa lagi?”

Iblis: ”Orang yang terus-menerus menjaga diri di dalam keadaan suci dari kotoran.”

Rasulullah: ”Lalu  siapa lagi?”

Iblis: ”Orang miskin (fakir) yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya.“

Rasulullah: ”Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar?” 

Iblis: ”Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh-kesahnya kepada makhluk sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar.”

Rasulullah: ”Lalu siapa lagi?”

Iblis: ”Orang kaya yang bersyukur.”

Rasulullah bertanya: ”Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur?” 

Iblis: ”Jika aku melihatnya mengambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal.” 

Rasulullah: ”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat?” 

Iblis: ”Aku merasa panas dan gemetar.”

Rasulullah: ”Kenapa, wahai terlaknat?”

Iblis: ”Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat.”

Rasulullah: ”Jika mereka shaum?”

Iblis: ”Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa.” 

Rasulullah: ”Jika mereka menunaikan haji?”

Iblis: ”Saya menjadi gila.” 

Rasulullah: ”Jika mereka membaca Al-Qur’an?”

Iblis: “Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api.”

Rasulullah: ”Jika mereka berzakat?”

Iblis: ”Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji/ kapak dan memotongku menjadi dua.” 

Rasulullah: ”Mengapa begitu, wahai Abu Murrah (Iblis)?” 

Iblis: ”Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang berzakat disenangi makhluk-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Keempat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya.”

Rasulullah: ”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”

Iblis: ”Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam.”

Rasulullah: ”Apa pendapatmu tentang Umar?”

Iblis: ”Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya.”

Rasulullah: ”Apa pendapatmu tentang Utsman?”

Iblis: ”Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya.”

Rasulullah: ”Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib?”

Iblis: ”Andai saja aku dapat selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya (menukar darinya kepala dengan kepala), dan kemudian ia meninggalkanku dan aku meninggalkannya, tetapi dia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu.”

Rasulullah: ”Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat.” 

Iblis yang terlaknat berkata kepada Muhammad SAW: ”Hay-hata hay-hata (tidak mungkin - tidak mungkin). Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat. Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku.  Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan. Akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf. Yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang mukhlis (ikhlas).”

Rasulullah: ”Siapa yang mukhlis itu menurutmu?”

Iblis dengan panjang-lebar menjawab: ”Apakah engkau tidak tahu, wahai Muhammad. Barangsiapa cinta dirham dan dinar, dia tidak termasuk orang ikhlas untuk Allah. Jika aku melihat orang tidak suka dirham dan dinar, tidak suka puji dan pujaan, aku tahu bahwa dia itu ikhlas karena Allah, maka aku tinggalkan ia. Sesungguhnya hamba yang mencintai harta, pujian dan hatinya tergantung pada nafsu (syahwat) dunia, dia lebih rakus dari orang yang saya jelaskan kepadamu. Tak tahukah engkau, bahwa cinta harta termasuk salah satu dosa besar. Wahai Muhammad, tak tahukah engkau bahwa cinta kedudukan (riyasah) termasuk dosa besar. Dan bahwa sombong, juga termasuk dosa besar. Wahai Muhammad, tidak tahukah engkau, bahwa aku punya tujuh puluh ribu anak. Setiap anak dari mereka, punya tujuh puluh ribu setan. Di antara mereka telah aku tugaskan untuk menggoda golongan ulama, dan sebagian lagi menggoda anak muda, sebagian lagi menggoda orang-orang tua, dan sebagian lagi menggoda orang-orang lemah. Adapun anak-anak muda, tidak ada perbedaan di antara kami dan mereka, sementara anak-anak kecilnya, mereka bermain apa saja yang mereka kehendaki bersamanya. Sebagian lagi telah aku tugaskan untuk menggoda orang-orang yang rajin beribadah, sebagian lagi untuk kaum yang menjauhi dunia (zuhud). Setan masuk ke dalam dan keluar dari diri mereka, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, dari satu pintu ke pintu yang lain, sampai mereka mempengaruhi manusia dengan satu sebab dari sebab-sebab yang banyak. Lalu setan mengambil keikhlasan dari mereka. Menjadikan mereka menyembah Allah tanpa rasa ikhlas, tetapi mereka tidak merasa. Apakah engkau tidak tahu, tentang Barshisha, sang pendeta yang beribadah secara ikhlas selama tujuh puluh tahun, hingga setiap orang yang sakit menjadi sehat berkat dakwahnya. Aku tidak meninggalkannya sampai dia berzina, membunuh, dan kafir (ingkar). Dialah yang disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an, dengan firman-Nya di dalam Surah Al-Hasyr: 16:

”(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu!" Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Hasyr (59): 16)

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu berasal dariku. Akulah orang yang pertama kali berbohong. Barangsiapa berbohong, dia adalah temanku, dan barangsiapa berbohong kepada Allah, dia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu, bahwa aku bersumpah kepada Adam dan Hawa, “Demi Allah aku adalah penasehat kamu berdua.” Maka, sumpah palsu merupakan kesenangan hatiku, ghibah, membicarakan kejelekan orang lain, dan namimah, mengadu domba adalah buah kesukaanku, melihat yang jelek-jelek adalah kesukaan dan kesenanganku. Barangsiapa thalaq, bersumpah untuk cerai, dia mendekati perbuatan dosa, meskipun hanya sekali, dan meskipun ia benar. Barangsiapa membiasakan lisannya dengan ucapan cerai, istrinya menjadi haram baginya. Jika mereka masih memiliki keturunan sampai hari kiamat, maka anak mereka semuanya adalah anak-anak hasil zina. Mereka masuk neraka hanya karena satu kata saja.

Wahai Muhammad, sesungguhnya di antara umatmu ada yang meng-akhirkan shalat barang satu dua jam. Setiap kali mau shalat, aku temani dia dan aku goda dia. Kemudian aku katakan kepadanya, ”Masih ada waktu, sementara engkau sibuk.” Sehingga dia mengakhirkan shalatnya dan mengerjakannya tidak pada waktunya, maka Tuhan memukul wajahnya. Jika ia menang atasku, maka aku kirim satu setan yang membuatnya lupa waktu shalat. Jika ia menang atasku, aku tinggalkan dia sampai ketika mengerjakan shalat aku katakan kepadanya, ”Lihatlah kiri-kanan,” lalu ia menengok. Saat itu aku usap wajahnya dengan tanganku dan aku cium antara kedua matanya dan aku katakan kepadanya, “Aku telah menyuruh apa yang tidak baik selamanya.” Dan engkau sendiri tahu wahai Muhammad, siapa yang sering menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul wajahnya.

Jika ia menang atasku dalam hal shalat, ketika shalat sendirian, aku perintahkan ia untuk tergesa-gesa. Maka ia ‘mencucuk’ shalat seperti ayam mematuk biji-bijian, dengan tergesa-gesa. Jika ia menang atasku, maka ketika shalat berjamaah aku cambuk dia dengan ‘lijam’ (cambuk) lalu aku angkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya. Aku letakkan ia hingga mendahului imam. Kamu tahu bahwa siapa yang melakukan itu, batal-lah shalatnya dan Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai pada hari kiamat nanti.

Jika ia masih menang atasku, aku perintahkan dia untuk mengacungkan jari-jarinya ketika shalat sehingga dia mensucikan aku ketika ia sholat. Jika ia masih menang, aku tiup hidungnya sampai dia menguap. Jika ia tidak menaruh tangan di mulutnya, setan masuk ke dalam perutnya  dan dengan begitu ia bertambah rakus di dunia dan cinta dunia. Dia menjadi pendengar kami yang setia.

Bagaimana umatmu bahagia sementara aku menyuruh orang miskin untuk meninggalkan shalat. Aku katakan kepadanya, “Shalat tidak wajib atasmu. Shalat hanya diwajibkan atas orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah.”  Aku katakan kepada orang yang sakit, ”Tinggalkanlah shalat, sebab ia tidak wajib atasmu. Shalat hanya wajib atas orang yang sehat, karena Allah berkata, ‘Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan… Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) bagimu, agar kamu mengerti.’ (QS. An-Nuur (24): 61) Tidak ada dosa bagi orang yang sakit. Jika kamu sembuh, kamu harus shalat yang diwajibkan.” Sampai dia mati dalam keadaan kafir. Jika dia mati dan meninggalkan shalat ketika sakit, dia bertemu Tuhan dan Tuhan marah kepadanya. Wahai Muhammad, jika aku bohong dan ngawur, maka mintalah kepada Tuhan untuk membuatku jadi pasir.  Wahai Muhammad, bagaimana engkau bahagia melihat umatmu, sementara aku mengeluarkan seperenam umatmu dari Islam.





Nabi SAW berkata: ”Wahai terlaknat, siapa teman dudukmu?”

Iblis: ”Pemakan riba.”

Nabi: ”Siapa teman kepercayaanmu (shadiq)?”

Iblis: ”Pe-zina.”

Nabi: ”Siapa teman tidurmu?”

Iblis: ”Orang yang mabuk.”

Nabi: ”Siapa tamumu?”

Iblis: ”Pencuri.”

Nabi: ”Siapa utusanmu?”

Iblis: ”Tukang Sihir.”

Nabi: ”Apa kesukaanmu?”

Iblis: ”Orang yang bersumpah cerai.”

Nabi: ”Siapa kekasihmu?”

Iblis: ”Orang yang meninggalkan shalat Jum’at.” 

Nabi: ”Wahai terlaknat, siapa yang memotong punggungmu?”

Iblis: ”Ringkikan kuda untuk berperang di jalan Allah.”

Nabi: ”Apa yang melelehkan badanmu?”

Iblis: ”Tobatnya orang yang bertaubat.”

Nabi: ”Apa yang menggosongkan (membuat panas) hatimu?”

Iblis: ”Istighfar yang banyak kepada Allah siang-malam.”

Nabi: ”Apa yang memuramkan wajahmu (membuat merasa malu dan hina)?”

Iblis: ”Zakat secara sembunyi-sembunyi.”

Nabi: ”Apa yang membutakan matamu?”

Iblis: ”Shalat di waktu sahur (menjelang shubuh).”

Nabi: ”Apa yang memukul kepalamu?”

Iblis: ”Memperbanyak shalat berjamaah.”

Nabi: ”Siapa yang paling bisa membahagiakanmu?”

Iblis: ”Orang yang sengaja meninggalkan shalat.”

Nabi: ”Siapa manusia yang paling sengsara (celaka) menurutmu?”

Iblis: ”Orang kikir/ pelit.”

Nabi: ”Siapa yang paling menyita pekerjaanmu (menyibukkanmu)?”

Iblis: ”Majelis-majelis ulama.”

Nabi: ”Bagaimana kamu makan?”

Iblis: ”Dengan tangan kiriku dan dengan jari-jariku.”

Nabi: ”Di mana kamu lindungkan anak-anakmu ketika panas?”

Iblis: ”Di balik kuku-kuku manusia.”

Nabi: ”Berapa keperluanmu yang kau mintakan kepada Allah?”

Iblis: ”Sepuluh perkara.”

Nabi: ”Apa itu, wahai terlaknat?”

Iblis: ”Aku minta kepada-Nya agar saya dapat berserikat di dalam diri Bani Adam, di dalam harta dan anak-anak mereka. Dia mengijinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah:

‘Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka. Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.’ (QS. Al-Isra’ (17): 64) Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan isterinya maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah: ‘… kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, …’ (QS. 17:64)

Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Aku memohon agar saya punya al-Qur’an, maka syair adalah al-Qur’anku. Saya memohon agar punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku. Saya memohon agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya punya  teman-teman yang menolongku, maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfaq-kan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku.

Ia (Iblis) kemudian membaca ayat: ‘Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.’ (QS. Al-Isra’ (17): 27)

Rasulullah berkata: ”Andaikata tidak setiap apa yang engkau ucapkan didukung oleh ayat-ayat dari Kitabullah tentu aku tidak akan membenarkanmu.” 

Lalu Iblis meneruskan: ”Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam sementara mereka tidak dapat melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku dapat mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku dapat berjalan kemanapun sesuai dengan kemauanku dan dengan cara bagaimanapun. Kalau saya mau, dalam sesaatpun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku: ‘Engkau dapat melakukan apa saja yang kau minta’. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari kiamat.

Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Isya. Andaikata tidak karenanya tentu ia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat. Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan ibadah dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan ditengah-tengah manusia sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala-Nya sehingga yang tersisa hanya satu pahala, sebab, setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala. Saya punya anak lagi yang bernama Kuhyal. Ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang ada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang memberikan khutbah, sehingga, mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Bagi mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya.

Setiap kali ada perempuan keluar pasti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Di mana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya,’Keluarkan tanganmu.’ Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.

Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak dapat menyesatkan sedikitpun, akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikata saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak akan membiarkan segelintir manusiapun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan, “Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya,” dan tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak memberikan hidayah sedikitpun kepada siapa saja, akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanah  dari Tuhan. Andaikata engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orangpun kafir di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai hujjah (argumentasi) Tuhan terhadap makhluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya.

Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah di dalam QS. Huud: 118-119:

‘Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat). (QS. Huud (11): 118)

Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.’ (QS. Huud (11): 119)

Dilanjutkan dengan:

‘Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.’ (QS. Al-Ahzab  (33): 38)

Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Iblis: “Wahai Abu Murrah (Iblis), apakah engkau masih mungkin bertaubat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga.”

Iblis menjawab: “Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam-pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka Maha Suci Tuhan, yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khatib para penduduk surga. Dia telah memilih dan meng-khususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluk celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu dan saya mengatakan yang sejujurnya.”

Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam, awal dan akhir, dzahir dan bathin. Semoga shalawat dan salam selalu dicurahkan kepada seorang Nabi yang ummi dan kepada para keluarga dan sahabat beliau.



(*** Naskah di atas merupakan terjemahan dari, Syajaratul Kaun, Risalah oleh Muhyiddin Ibnu Arabi di mana terdapat di dalam 2 buku terjemahan, pertama, Buku Pohon Semesta Bab II, Pustaka Progresif, Cetakan I, Oktober 1999, dan kedua, Buku Syajaratul Kaun dan Hikayah Iblis, Risalah Gusti, Cetakan II, Mei 2001)









Baca Selengkapnya ...